Daftar Blog Saya

Tampilkan postingan dengan label /tugas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label /tugas. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 November 2011

System Development Life cycle (Planning, Analysis, Design, Implementation, Testing and Maintenance.)


 SDLC mengacu pada metodologi untuk mengembangkan sistem. Ini menyediakan kerangka kerja yang konsisten tugas dan kiriman yang dibutuhkan untuk mengembangkan sistem. Metodologi SDLC mungkin terkondensasi untuk menyertakan hanya kegiatan yang sesuai untuk suatu proyek tertentu, apakah sistem ini otomatis atau manual, apakah itu adalah sistem baru, atau sebuah peningkatan pada sistem yang ada. Metodologi SDLC trek sebuah proyek dari sebuah ide yang dikembangkan oleh pengguna, melalui studi kelayakan, analisis sistem dan desain, pemrograman, uji coba, implementasi, dan pasca-implementasi analisis. Dokumentasi yang dikembangkan selama pengembangan proyek digunakan di masa depan ketika sistem ulang untuk, modifikasi kelanjutan, atau penghapusan.

SDLC merupakan pedoman untuk mengembangkan sistem / software yang melibatkan Fase berikut.
Prashant Vadher - SDLC (Software Developement Life Cycle)

Tahapan SDLC
SDLC adalah tahapan Perencanaan, Analisis, Desain, Implementasi, Pengujian dan Pemeliharaan.
1. Perencanaan proyek, studi kelayakan: Menetapkan tampilan tingkat tinggi dari proyek dimaksud dan menentukan tujuannya.
2. Sistem Analisis, Persyaratan Definisi: memurnikan tujuan proyek menjadi fungsi didefinisikan dan operasi dari aplikasi dimaksud. Menganalisa kebutuhan pengguna akhir informasi.
3. Desain Sistem: Menggambarkan fitur yang diinginkan dan operasi secara rinci, termasuk layar layout, aturan bisnis, diagram proses, pseudo code dan dokumentasi lainnya. Sebuah prototipe harus dikembangkan selama fase desain logis jika memungkinkan. Tahap desain rinci memodifikasi desain logis dan menghasilkan desain rinci final, yang mencakup pilihan teknologi, menentukan arsitektur sistem, memenuhi semua tujuan sistem kinerja, dan masih memiliki semua fungsionalitas aplikasi dan perilaku yang ditetapkan dalam desain logis.
4. Pelaksanaan (Pengembangan): Kode yang sebenarnya ditulis di sini.
5. Integrasi dan Pengujian: Membawa semua potongan ke dalam lingkungan pengujian khusus, kemudian memeriksa untuk kesalahan, bug dan interoperabilitas.
6. Penerimaan, Instalasi, Deployment: Tahap akhir pengembangan awal, di mana perangkat lunak yang dimasukkan ke dalam produksi dan menjalankan bisnis yang sebenarnya.
7. Pemeliharaan: Apa yang terjadi selama sisa hidup perangkat lunak: perubahan, koreksi, penambahan, pindah ke platform komputasi yang berbeda dan lebih.

Produk dan Deliverable
Prashant Vadher - Products of SDLC (Software Developement Life Cycle)

Sabtu, 22 Oktober 2011

manajemen kualitas total

adalah suatu konsep manajemen yang telah dikembangkan sejak lima puluh tahun lalu dari berbagai praktek manajemen serta usaha peningkatan dan pengembangan produktivitas. Di masa lampau, literatur manajemen berfokus pada fungsi-fungsi kontrol kelembagaan, termasuk perencanaan, pengorganisasian, perekrutan staf, pemberian arahan, penugasan, strukturisasi dan penyusunan anggaran. Konsep manajemen ini membuka jalan menuju paradigma berpikir baru yang memberi penekanan pada kepuasan pelanggan, inovasi dan peningkatan mutu pelayanan secara berkesinambungan. Faktor-faktor yang menyebabkan lahirnya "perubahan paradigma" adalah menajamnya persaingan, ketidak-puasan pelanggan terhadap mutu pelayanan dan produk, pemotongan anggaran serta krisis ekonomi. Meskipun akar TQM berasal dari model-model perusahaan dan industri, namun kini penggunaannya telah merambah sturuktur manajemen, baik di lembaga pemerintah maupun lembaga nirlaba.

TQM memperkenalkan pengembangan proses, produk dan pelayanan sebuah organisasi secara sistematik dan berkesinambungan. Pendekatan ini berusaha untuk melibatkan semua pihak terkait dan memastikan bahwa pengalaman dan ide-ide mereka memiliki sumbangan dalam pengembangan mutu. Ada beberapa prinsip-prinsip fundamental yang mendasari pendekatan semacam itu, seperti mempromosikan lingkungan yang berfokus pada mutu; - dimana terdapat komunikasi terbuka dan rasa kepemilikan pegawai - sistem penghargaan dan pengakuan; pelatihan dn pendidikan terus menerus, dan pemberdayaan pegawai.

Di Indonesia, TQM pertama kali diperkenalkan pada tahun 1980-an dan sekarang cukup populer di sektor swasta khususnya dengan adanya program ISO 9000. Banyak perusahaan terkemuka dan perusahaan milik negara telah mengadopsi TQM sebagai bagian dari strategi mereka untuk kompetitif baik di tingkat nasional mupun internasional. Tetapi TQM kurang begitu dikenal di sektor publik. Namun kini keadaan sudah berubah, faktor-faktor yang mendorong sektor swasta untuk beradaptasi dengan konsep ini, juga memiliki dampak terhadap cara pemerintah menyediakan pelayanan.

Indonesia kini berada dalam periode transisi, dari gaya pemerintahan otoriter yang sangat sentralistik menuju ke gaya pemerintahan bottom-up yang desentralistik, dimana pemerintah daerah berada dalam proses menerima otonomi daerah. Masa transisi ini berlangsung dalam masa krisis ekonomi dan restrukturasi yang memaksa pemerintah untuk mengeksplorasi model-model pengadaan pelayanan alternatif. Sebenarnya, UU No. 22 1999 (mencakup kepemerintahan daerah) memiliki potensi untuk mentransformasi cara pemberian pelayanan oleh pemerintah secara dramatis. UU ini bertujuan untuk memberdayakan pemerintah daerah, menguatkan masyarakat lokal dan meningkatkan kualitas pelayanan publik. Dalam konteks inilah terdapat peluang yang berharga untuk memperkenalkan dan melaksanakan TQM.

Dalam pengalaman DELIVERI di sektor peternakan, TQM telah memainkan peran penting dalam merubah perilaku dari tingkat petani hingga tingkat manajemen senior. Evaluasi terhadap pelaksanaan TQM mengidentifikasi peningkatan tingkat kepuasan pelanggan dan kualitas pelayanan pada program inseminasi buatan di Kabupaten Bulukumba dan Barru. Di Minahasa, Juru Kesehatan Hewan Masyarakat memenuhi kebutuhan para petani terhadap perawatan kesehatan hewan dengan biaya terjangkau.